Beberapa musibah banyak melanda di tanah air. Mulai dari banjir, angin puting beliung, longsor, dan juga kecelakaan. Nah, untuk menghindari hal itu, beberapa daerah melakukan ritual menolak bala. Bahkan, doa-doanya juga doa yang dituntunkan dalam Islam. Bagaimana hukumnya?

SECARA garis besar, ajaran Islam itu dapat dikategorikan menjadi tiga dimensi, yakni: dimensi ta’abbudiy (ritual, peribadatan), dimensi ijtimaa’iy (sosial, kemasyarakatan), dan dimensi tsaqaafiy (kultural, kebudayaan). Dari tiga kategori tersebut, hanya dimensi ta’abbudiy yang bersifat dogmatik dan tidak boleh ada pengubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Pengubahan terhadap masalah-masalah ta’abbudiy disebut bid’ah dan hanya masalah ta’abbudiy inilah yang bisa dilabeli bid’ah jika terjadi pengubahan. Sedangkan kreasi terhadap masalah-masalah ijtimaa’iy atau tsaqaafiy itu diperbolehkan dan tidak dapat dilabeli bid’ah.

Oleh karena itu kita mesti amat berhati-hati dalam menerapkannya, tetapi juga tidak perlu terlalu kaku sehingga akan terjadi dakwah kontraproduktif karena berlawanan secara diametral dengan apa yang telah berlaku di masyarakat. Dalam menghadapi hal-hal sosial kultural, apa yang dilakukan Wali Songo dalam berdakwah yang sangat akomodatif, amat layak dicontoh. Wali Songo amat arif menyikapi masalah-masalah sosio-kultural, justru mengadopsi sebagiannya sebagai pintu masuk dakwah Islam.

Sehubungan dengan tradisi ruwatan dalam bentuk slametan dan lain-lain untuk menolak bala, maka hal ini dapat dimasukkan dalam kategori ajaran Islam yang berdimensi ijtima’iy (sosial) dan tsaqafiy (kultural), sehingga kita bisa bersikap lebih fleksibel dan akomodatif. Dalam kategori ini yang dituntut adalah substansinya harus sesuai dan/atau tidak bertentangan dengan esensi akidah Islam, harus dihindari segala prosesi yang berpotensi atau berdimensi syirik. Dengan demikian, tidak benar jika ada orang yang begitu mudah dan tergesa-gesa melabeli ruwatan/slametan dengan label bid’ah atau apalagi syirik tanpa melihat substansi dan prosesinya.

Ruwatan dalam bentuk slametan di masyarakat kita sering berwujud “sedekah” yang berupa menyajikan ambeng (nasi lengkap dengan lauk pauknya yang ditempatkan dalam suatu wadah relatif besar dan cukup untuk dimakan beberapa orang) atau makanan tertentu yang diperuntukkan bagi jamaah/masyarakat dengan terlebih dulu dibacakan doa-doa islami.

Ruwatan/slametan model ini tentu diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan esensi ajaran Islam. Memang secara khusus dalam Islam tidak ada jenis ritual tertentu untuk menolak bala (bencana), tetapi doa-doa permohonan agar diselamatkan dari bala (bencana) sungguh amat banyak, baik dalam Alquran maupun hadis. Mengenai slametan … baca kajian selengkapnya di Tabloid NURANi edisi 624.

Comments are closed.